#1. (Seri kesatu)

TUMBUH BESARKAN Bisnis dengan KEDALAMAN (proper)

A’udzubillahi minasysyaithanirrajim
Bismillahirrahmanirrahim

Mengapa dalam belajar bela diri, yang paling tidak menarik tapi tetap harus dilakukan, adalah latihan kuda-kuda dan gerakan dasar?

Mengapa kaidah dalam mencari ilmu itu diawali dengan al fahmu (paham)?

Mengapa proses membangun pondasi rumah justru menjadi bagian yang paling tidak menarik tapi waktunya cukup lama dan tidak boleh salah?

_______________🎗

Kondisi sebaliknya,
Mengapa workshop bisnis yang paling menarik saat temanya adalah teknik meledakkan omset seledak-ledaknya?
Mengapa pelatihan yang menawari “melesatnya bisnis” menjadi buruan?
Sebab itu “pas” dan “sesuai” dengan napsu dasar dan fitrah manusia:

– yang ingin cepet sukses
– yang ingin cara gampang
– yang ingin hasil instan
– yang ingin cepat dapat uang
– yang mau cepet kaya
– yang sebab ‘kepepet’

Apalagi ketika “kemasannya” pun sesuai dengan selera panca indra dan pembenaran rasa.
Plus tim hore yang mendukung.
Lengkap sudah. 😅

Coba kita perhatikan,

“Mengapa ulama salafushshalih belajar ‘adab bisa sampai puluhan tahun sebelum belajar ilmu dari gurunya?”

Mengapa 13 tahun awal islam di Mekah melulu soal aqidah?

_______________🎗

Akar pohon jarang yang terlihat apalagi dipuji. Tapi, ada peribahasa seperti ini: “Cabut pohon hingga ke akar-akarnya.” Yang maknanya, jika tidak sampai ke akar-akarnya, nggak tuntas urusan.

Pondasi rumah tak terlihat, tak pernah dipedulikan pula bentuknya. Entah berukir, entah permukaannya mulus licin atau kasar..
Tapi, rumah yang aman mensyaratkan pondasi yang tepat, kokoh sesuai spek bangunan yang akan berdiri di atasnya.

Pohon yang menjulang tinggi, mestilah memiliki akar yang sehat, kuat mencengkram, entah dengan kedalamannya yang menghunjam, atau dengan serabutnya yang mencengkram merata.

__________________🎗

Rumah tangga yang baik dan kokoh adalah saat pondasi keimanan menjadi landasannya. Itu sebab pilihan pertama dan utama memilih pasangan adalah ihwal agamanya.
Sebab terlalu banyak bukti nyata, harta pun rupa yang cantik menawan atau tampan memesona, tidak menjadi jaminan bahagia hadir di dalamnya.

Bisnis yang baik dan kokoh pun sama, bukan pada berapa besaran modal awal dimiliki. Atau seberapa keren background pendidikan si ownernya. Atau jenis keren pilihan bisnisnya. Betapa banyak bisnis yang keren namun rapuh bahkan gulung tikar. Betapa tidak sedikit bisnis ngurusin “sampah” yang menjadikan pemiliknya kaya raya dan dihormati orang banyak..

_________________🎗

Fakta di lapangan, baik pengusaha skala menengah pun apalagi UMKM, mayoritasnya ternyata tidak/ belum melek bisnis.
Apalagi melek finansial.
Mereka yang sudah melek finansial, jauh lebih sedikit.

Jika (umumnya) UMKM Home industri ditanya,
– apakah punya laporan keuangan? sedikit
sekali yang punya. Mungkin rerata hanya
10-15% saja.
– apakah laporan keuangannya sudah
benar? jauh lebih sedikit. mungkin tidak
sampai 5%
– bahkan perusahaan yang sudah
berbentuk PT atau CV, jika ditanya
apakah laporan keuangannya sudah
standar audit? atau sudah di audit? boleh
jadi jumlahnya di bawah 2%.
Itu baru sebagian aspek finansial.
Belum lagi dari aspek pengelolaan perpajakannya, dst.

Trus, jika pengusaha ditanya tentang purpose bisnisnya. Mau solve problem yang mana? Problemnya siapa?
Makin sedikit lagi yang sudah masuk ke pengertian itu. Saya pernah beberapa kali diskusi langsung dengan kelompok pengusaha UMKM.
Ternyata perlu proses yang tidak “langsung nemu” untuk menemukan purpose bisnisnya.

Fakta bahwa belum banyak pengusaha yang sudah sadar hal ini, adalah gambaran, betapa masih sangat sedikit pengusaha yang “sadar kaya”.

Maka, sangatlah wajar jika banyak sekali pebisnis di Indonesia khususnya, yang menemui kebuntuan dalam perjalanan berbisnisnya.
Pebisnis “rumahan” yang mampu menjadi UMKM dengan membuat PT atau CV, bisa jadi sangat banyak jumlahnya, namun masih sangat sedikit yang berhasil mengembangkan skalanya menjadi korporasi yang memiliki standar “good corporate governance”.

Menjadi wajar jika, banyak pebisnis yang dalam 10 tahun perjalanan bisnisnya, akhirnya bergonta-ganti bisnis berkali-kali.

________________🎗

Mengutip dari pembelajaran Pak Budi Isman, jika Ferrari ditanya, mengapa harganya sangat mahal?
(Kan jadi susah dimiliki banyak orang?)
Ferrari akan menjawab,
“Kami tidak ingin Ferrari dimiliki oleh banyak orang. Kami memang ingin hanya limited yang bisa memiliki Ferrari.”

_________________🎗

#2 Bangun Kedalaman (seri kedua)

Ini yang jarang menjadi perhatian pengusaha: membangun kedalaman.

Ada minimal 4 resiko yang “mengancam” jika pengusaha tidak melakukan hal ini:

1. Resiko Agama (Moral)
2. Resiko Financial
3. Resiko Sosial
4. Resiko Legal

– bersambung –

Riza Zacharias

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini