Sesuai anjuran Presiden TDA 6.0 Donny Kris Puriyono tentang #TDATanggapCorona, saya menuliskan hal ini.

Saya menyebutnya dengan Business Survival Canvas (BSC), mencoba memprediksikan apa yang harus dilakukan dalam bisnis saya pribadi yang UKM dan rentan krisis ini, supaya bisa tetap survive di era pandemi corona yang perubahannya dalam hitungan hari. Catatan ini untuk saya sampaikan ke internal tim dan saya share siapa tahu berguna bagi member TDA yang UKM seperti saya.

Cara saya cukup membalik Business Model Canvas (BMC) yang biasanya dipakai untuk merumuskan bisnis model untuk menuliskan mimpi2 pertumbuhan, menjadi BSC untuk merumuskan apa yang harus dilakukan dengan asumsi2 penurunan bisnis yang tajam dalam hitungan hari. Ada 9 blok sesuai BMC yang tentunya kita sudah paham, dan saya modifikasi menjadi BSC dengan cara suka-suka saya …he..he..hee.

CUSTOMER

Yuk bersiap jika pelanggan kita berubah, segmentasi bisa ambyar, konsumen berdiam diri dirumah, mengerem pembelian barang sekunder dan tersier, fokus menjaga kebutuhan primer. Dompet konsumen mengempis, sumber penghasilan terancam, tempat kerja mereka juga terancam krisis, mereka berbagi pengeluaran dengan sangat hati-hati, konsumen dalam mode survival juga.

Bagi kelas bawah yang penting bisa bertahan hidup, bagi kelas menengah yang penting bisa survive dengan nyaman karena mungkin punya simpanan dana darurat, kalau kelas atas sibuk survive menyelamatkan porfolio mesin uangnya dan juga utang2nya. Perilaku konsumen dalam belanja totally akan berubah. Orang Indonesia bisa jadi ngga takut corona, ancaman sesungguhnya adalah konsumen ngga punya uang.

Tentunya peluang tetap ada, kita perlu tetap ikuti perubahan perilaku konsumen, tetap temukan kebutuhan penting yang dicari konsumen, dan sesuaikan bisnis kita dengan kemauan konsumen. Bidik konsumen berpenghasilan stabil. Bagi pebisnis fashion, ini menantang, bagi pebisnis kuliner mungkin masih bisa follow kebutuhan konsumen. Prinsip customer development ala startup tetap punya peluang, siapapun yang mampu memberikan solusi bagi konsumen disaat yang genting ini, mungkin itulah yang dibeli konsumen.

CUSTOMER RELATIONSHIP

Mungkin konsumen akan makin banyak waktu luang ketika mengkarantina diri dan keluarga. Cara-cara lama customer relationship mungkin tetap perlu dipertahankan, sambil dipantau responnya, karena bisa jadi tidak relevan lagi. Mungkin juga perlu cara relationship baru yang lebih interaktif dan menghibur. Bagaimanapun karantina 14 hari adalah membosankan. Bagi yang mempunyai database pelanggan, dan bisa kontak langsung ke pelanggan, tetap ada peluang menjalin relasi dengan cara baru. Mungkin cara relationship yang baru adalah Empathy Based Customer Relationship, bagaimana membangun komunikasi, relasi dan bertransaksi yang ber-empati dengan kondisi pelanggan saat ini.

CHANNEL

Sudah dipastikan ketika terjadi lockdown di suatu kota, offline traffic akan drop 99%. Toko, resto, warung, café dan ritel lainnya pun akan diminta tutup. Ini prahara bagi industri ritel UKM. Untuk itu, jika masih bisa menyiapkan channel alternatif, misal online dan delivery, ada baiknya bisa disiapkan sekarang. Peluang tetap ada, karena konsumen masih akan melakukan pembelian, tapi melalui apa?

Ini yang perlu disiapkan sekarang. Kita perlu segera memperkenalkan channel-channel alternatif jika sampai toko dipaksa tutup oleh pemerintah ke pelanggan kita sekarang. Mungkin bisa melalui brosur yang berisi info channel baru kita jika terpaksa toko kita harus tutup. Intinya, pastikan pelanggan dan konsumen tahu, bahwa toko kita masih melayani pembelian walau secara fisik terpaksa tutup.

VALUE PROPOSITION

Aha … ini bagian paling sulit. Produk dan layanan kita akan dipaksa menyesuaikan value dengan keadaan. Sebagai contoh. teman kita yang bisnis layanan umroh, tiba-tiba tutup total, harus ngapain? Ya ganti produk dan layanan. Ini adalah waktu dimana pebisnis dan konsumen sama-sama perlu survive.

Pelanggan mungkin sudah agak kurang perlu value New Product (Newness), Design yang keren, Status (Brand), juga performance. Tapi mungkin makin perlu value produk dan layanan yang Custom, Getting the Survive Done (membantu pelanggan survive), Harga (Price) yang ber-empati terhadap krisis, solusi Hemat – Cost reduction yang membantu customer cutting-cost dikala dompet mereka makin menipis.

Pelanggan mungkin juga akan melihat value jika sebuah produk dan layanan yang dapat Meminimasi Resiko (Risk reduction) – resiko virus, resiko kerja, resiko bisnis dll. Value penting juga seperti akses yang mudah dan nyaman bagi customer terhadap produk/ jasa yang ditawarkan, minim resiko penularan.

KEY ACTIVITIES

Aktivitas kunci hari ini yang saya segera dilakukan antara :
– corat-coret BSC untuk bisnis UKM kita sekarang
– mengumumkan ke karyawan strategi kita menghadapi krisis ini, termasuk cara-cara menyelamatkan karyawan front-liner seperti kasir jangan samapi menjadi pintu penularan.
– meminta komitmen dan pengertian karyawan siap menghadapi apapun yang terjadi, termasuk pemotongan gaji, dll
– menyiapkan skenario merumahkan karyawan, mapping kebutuhan karyawan inti, menyiapkan pola kerja ketika harus tetap berjualan secara online & delivery, dll
– menjalin komunikasi internal secara intensif ke semua divisi.
– Menyiapkan produk, channel, program marketing, dll yang pas dengan era pandemi ini.
– menjalin komunikasi eksternal dengan Key Partner, seperti investor, supplier, mitra support, khususnya menegoisasikan semua hak dan kewajiban kerjasama dalam kondisi survival.
– Restrukturisasi cost disemua lini …
– Menggali peluang revenue stream baru dari bisnis jangka pendek
– dan seterusnya …

KEY PARTNER

Silaturrahmi ke mitra bisnis, mangajak mitra bisnis baik itu investor, supplier dan support partner untuk mulai membicarakan tentang Reduction of Risk and Uncertainty: bagaimana mengurangi risiko dan ketidakpastian dalam krisis ini. Prinsipnya cuman satu – ajak Gotong Royong untuk Survive. Tidak perlu egois mau selamat sendiri, sementara mitra bisnis ambruk. Kita dan mitra adalah satu ekosistem. Kita UKM yang perlu bergandengan, bukan corporate yang sedang ditekan investor kapitalis.

Jika komunikasi eksternal ke mitra intensif, kita akan tahu kondisi mitra bisnis. Jika ada kebuntuan supply, kita bisa pamit untuk mencari mitra lain sementara, supaya supply tetap lancar. Juga ke investor, perlu sounding lebih awal perihal persiapan kita. Dukungan support partner juga dapat ditanyakan sekarang, misal mitra delivery, jika lockdown, apakah masih melayani pengiriman barang, dst.

COST STRUCTURE

Ini sedang bukan menghitung cost structure untuk pertumbuhan, tapi cost cutting ketika sales drop 75%, bahkan 100% ! Yuk bongkar apasaja cost yang bisa di cut, di efisiensi, walau ada batas mentok-nya. Kita perlu temukan cost structure baru dalam mode survival. Kita bisa bikin simulasi bertahan jika revenue drop 25%, lalu 50%, lalu 90%. Diangka drop berapa persen bisnis kita bakal collaps? Menemukan angka itu sangat penting sebagai pertanda bunyi alarm krisis.

Per hari ini ketika penjualan masih bagus, kota masih baik-baik saja, saatnya harus mulai menabung dana darurat, menyisihkan hasil penjualan mulai hari ini, tidak dipakai sampai 60 hari kedepan.

REVENUE STREAM

Revenue stream yang ada jika masih mengalir alhamdulillah, sambil cutting cost, revenue stream baru perlu segera diciptakan. Bahkan kalau perlu diluar bisnis inti. Yang penting duit masuk dan cuan walaupun itu kecil-kecil nilainya. Ekstrimnya, buka kuliner pinggir jalan pun hayu, jual cireng dan cilok pun ayo. Saatnya nge-hack model2 revenue stream kita.

Mumpung konsumen masih panik awal dan pegang uang karena belum ada potong gaji dan dirumahkan. 2 bulan kedepan dompet mereka makin kempes. Jual semua stok lama supaya jadi uang, jangan ditunda. Bagi pebisnis fashion, masih yakin ada panen lebaran jika konsumen sudah dirumahkan dan kota di lockdown?

=====

Jika masih bingung cara bersiap untuk survival, Anda wajib ikut workshop di TDA di kota Anda. “How to Still Survive if Your Sales Drop 100%!” wk..wkk…wk… serius amat .. becanda …

Saatnya #BeliTDA, ayo #UKMTDAGotongRoyong selamatkan diri untuk mampu survive. Kalau sampai terjadi lockdown di kota kita, akan sangat indah jika antar Member TDA saling bergandengan.

Salam
Rosihan, Pedagang, Member TDA
#TDATanggapCorona

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini