Asuransi itu fun dan tak membosankan

Sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci penting dalam keberlangsungan bisnis suatu perusahaan. Setiap perusahaan dituntut menyesuaikan perkembangan teknologi dengan pengelolaan SDM. Kepada jurnalis Tabloid KONTAN Putri Werdiningsih, Anna Leonita, Presiden Direktur PT Avrist Assurance berbagi cerita bagaimana rencana untuk mengembangkan SDM perusahaan.

Saya bergabung di Avrist Assurance pada tahun 2000. Waktu itu, saya mulai bekerja dari level bawah sebagai bagian administrasi di departemen investasi. Tahun 2017, saya sempat ditugaskan di anak perusahaan PT Avrist Asset Management. Setahun berselang, saya kembali lagi ke Avrist Assurance. Pada April 2019, saya memperoleh mandat sebagai Presiden Direktur.

Waktu itu, amanat pemegang saham tentunya saya diminta untuk membawa perusahaan ke arah yang lebih baik dengan menjalankan perusahaan ini secara bijaksana dan sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Untuk mewujudkan itu, tentunya saya harus menetapkan target perusahaan. Saya bagi menjadi dua, yaitu apa yang harus dicapai dalam tiga tahun pertama dan apa yang harus dicapai dalam lima tahun.

Kalau dilihat di 2018 secara annual premium equivalent (APE), kami masih berada di ranking 24. Ambisi kami, dalam tiga tahun, kami ingin bisa masuk ke 15 besar. Dalam lima tahun, kami bisa masuk menjadi 10 besar.

Sejak menjadi CEO, saya fokus membenahi sumber daya manusia (SDM). Untuk menjadikan Avrist pilihan para pencari kerja, kami harus punya program menarik bagi karyawan. Kami selalu memprioritaskan untuk mengembangkan mereka. Mereka senantiasa diberi tantangan untuk menerima tanggung jawab lebih tinggi.

Saya selalu bilang ke karyawan, jangan segan-segan meningkatkan level kompetensi. Mereka harus selalu terbuka menerima level tanggung jawab yang lebih besar. Bagi saya, kalau menerima tanggung jawab yang lebih besar, itu merupakan kepercayaan, bukan sebagai beban.

Kami ada beberapa proyek digitalisasi proses kerja. Misalnya melalui e-polis, pelaporan internal, dan pelan-pelan kami sedang coba menerapkan absensi secara digital. Sekarang beberapa program itu masih dalam proses uji coba. Targetnya tahun ini bisa dimulai.

Selain itu, ada juga program untuk meningkatkan engagement dengan karyawan. Kami panggil terapis. Masing-masing karyawan akan mendapatkan kesempatan untuk dipijat selama 15 menit. Ini sudah kami lakukan di bulan Maret dan Juni lalu, setiap akan tutup buku kuartal. Nanti di semester II, akan ada program beda lagi yang kami siapkan.
 

Kanal distribusi baru

Ada juga program nonton bareng (nobar) yang digelar oleh perusahaan. Hanya yang berbeda dari nobar pada umumnya, mereka yang ingin ikut nobar harus terlebih dulu menyumbangkan ide kreatifnya untuk pengembangan perusahaan. Yang idenya terpilih akan ikut nobar. Dengan cara ini, banyak karyawan berpartisipasi menyumbangkan ide-ide menarik.

Sebentar lagi, akan kami siapkan kompetisi foto untuk mengisi kalender tahunan Avrist tahun 2020. Ini kami lakukan untuk membuat sadar dan menumbuhkan rasa kepemilikan. Fotonya boleh foto diri, keluarga, atau apa pun yang penting seusai dengan tema yang ditetapkan.

Kalau bagian human resources (HR) tidak punya program menarik, kalau saya merekrut kalangan milenial, akhirnya perusahaan ini jadi tidak menarik. Avrist dianggap kuno. Meski kegiatan ini terlihat kecil, tetapi kami juga harus mengikuti teknologi.

Buat saya, karyawan itu adalah valuable asset untuk perusahaan. Itu menjadi kewajiban kita untuk menjaganya. Kalau dalam bisnis asuransi kami melakukan proteksi dengan produk yang dijual, tetapi terhadap karyawan, kami juga melakukan proteksi dengan menjadikannya bagian dari kita.

Saya rasa, pembenahan SDM itu tidak akan ada habisnya. Ini harus terus dilakukan secara konsisten setiap tahun. Apalagi untuk menghadapi era seperti sekarang, SDM menjadi yang paling penting. Kami harus menyesuaikan dengan standar industri agak tidak tertinggal.

Tahun ini, kami masih tetap mengandalkan jalur distribusi yang ada. Sekarang, penjualan melalui agen mendominasi di kisaran 65% dan sisanya menggunakan jalur perbankan (bancassurance).

Ke depan, kami berencana masuk ke e-commerce. Infrastruktur sudah mulai dipersiapkan untuk mengarah ke sana. Targetnya produk Avrist tidak hanya produk reksadana yang tersedia di e-commerce, tetapi juga asuransi umum. Tahun ini, saya rasa masih dalam proses persiapan. Namun saya optimistis, kanal distribusi ini bisa diluncurkan tahun depan.

Dari sisi produk, kami masih akan fokus ke produk asuransi tradisional. Sejauh ini, penerimaan masyarakat terhadap produk tradisional masih cukup bagus. Tahun lalu, 70% penjualan disumbangkan dari produk asuransi tradisional. Kami berharap, tahun ini pertumbuhannya juga seperti itu. Saya belum ada data kinerja semester I, tetapi tampaknya cukup bagus.

Tahun ini, kami juga mulai mencoba memperkenalkan Avrist ke generasi milenial. Kami mulai melakukan hal-hal yang simpel tapi berpengaruh besar. Misalnya Maret lalu, kami menjadi sponsor Java Jazz. Di sana, kami memberikan perlindungan asuransi ke para kru dan tetamu, tetapi tidak berjualan produk.

Sampai akhir tahun, akan ada beberapa acara yang akan kami ikuti. Kami ingin memperkenalkan Avrist secara halus. Dalam acara-acara tersebut, kami membuka stan, tetapi murni berisi aktivitas yang sifatnya milenial banget. Kami ingin memberi pemahaman bahwa asuransi itu fun dan tidak membosankan. Tahun ini, kami akan terus mengedukasi pasar.

Namun sampai sekarang, belum bisa terlihat berapa jumlah generasi milenial yang sudah bergabung. Hanya saja, indikasinya, jumlah follower Instagram kami cukup meningkat.
 
Anna Leonita
Presiden Direktur PT Avrist Assurance

Selanjutnya


Reporter: RR Putri Werdiningsih
Editor: Tri Adi

kontan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini