*Sekali Lagi Tentang KOLABORAKSI*

Beberapa bulan belakangan banyak bisnis model yang wara wiri di time line saya dan rata2 memakai jargon Kolaborasi,sampai2 TDA 6.0 pun memakai tagline #KolaboraksiUntukNegeri, gampang di ucap,jelimet diimplementasi🙂

Pola-pola berbisnis secara berjamaah,sinergi,kolaborasi sudah mulai digandrungi,dari yang saweran sesama teman sejawat hingga yang besar,dgn campaign Crowd Funding.

Bisnis UMKM pun tak luput dari pola2 creatif funding seperti ini,kesadaran orang dalam doing bisnis,lebih suka bersama2 dibanding harus pinjam uang ke bank.

Bank bagi mereka terkesan menjadi negatif, riba, angsuran yg di bayar harus tetap,apalagi dgn underlying jaminan hingga kalo macet,bank tanpa tedeng aling2,harus menyita aset borrower

Pola berbagi hasil,berbagi rugi saat ini menjadi primadona bagi para pemula atau bagi pebisnis yang mau scaleup bisnisnya

Nah diperlukan kesadaran bersama antara Mitra Investor dan Pengelola dalam doing bisnis ini..

Namun sebelum detail kita membahas,mari kita bedah beberapa bisnis model yang saat ini terjadi dgn fokus pada strategi investment nya..

*1.IPO* Initial Public Offering

Penawaran saham perdana maksudnya,ini bagi perusahaan yang sudah cukup umur,kisaran 2 sd 5 thn dimana diperlukan modal tambahan besar utk melakukan ekspansi usaha dan membayar hutang.
Akhirnya perusahaan melantai di bursa efek
Dengan segala persyaratan dari lapkeu wajib audited, KAP verified,due diligence yang harus benar2 prudent,hingga permasalahan pajak harus clear di lakukan sebelum IPO.
IPO menjual sebagian saham ke publik ,biasanya kisaran maks 49% dan pemilik awal siap secara manajemen pun dilakukan rekomposisi,demi pemegang saham baru.
Valuasi pemilik saham lama,biasanya lumayan naik,selisih kenaikan ini dinamakan agio saham,keuntungan bagi pemilik saham lama.
Cth kasus IPO yg sedang hangat ada perusahaan F and B terkenal ,punya puluhan cabang,kena aturan perpajakan,skrg mau IPO, diprediksi angka 400 M,dgn pelepasan saham hingga 80%,ini perusahaan sehat,income hariannya tinggi.

*2.Peer to peer lending*

Ini pola crowd funding beberapa tahun belakangan yang mulai mendistruption bank,hanya bermodal ktp,kk atau berbadan hukum PT anda sudah bisa mendapat pendanaan dari puluhan juta hingga milyaran.
Pada intinya, P2P Lending yaitu menghubungkan antara pemberi pinjaman (pendana/investor) dengan peminjam secara online.P to P Lending syrh saat ini juga di gemari,Krn banyak yg berbasis bagi hasil,sharing risk,tapi lumayan tinggi bagi hasil yg di patok,jika di equivalenkan bisa 20 SD 30%.
Sekali lagi dana ini tdk masuk dalam.equity hanya pd posisi FCF(Financing Cashflow)
Kelemahan sistem ini,ada kemungkinan pihak lender meminta sejumlah jaminan,kalo pun tanpa jaminan adanya Cek Mundur atau Payment Direct From Vendor.
Beberapa kali TDA pusat bertemu dgn P to P Lending syariah,yg menawarkan pembiayaan hingga milyaran,yg jelas pola ini cukup diminati karena persyaratan yg tdk terlalu sulit,namun pd kondisi pembiayaan dlm jumlah tinggi persyaratan semakin ketat

*3.Acquisition Of Assets*

Sebagian besar saham perusahaan dibeli oleh salah satu perusahaan,di beli dlm majority atau minority tergantung strategic pengembangan perusahaan kedepan.
Tersiar info ada teman2 TDA yg sedang melakukan aksi korporasi ini,dgn membeli 30% saham perusahaan F N B nya anggota TDA,targetnya akan ada aksi korporasi dlm 2 sd 3 thn kedepan,yg mengarah kepada IPO.
Ingat pola akuisisi saham seperti ini harus mengawinkan value yang sama di antara pemilik dan investor, biasanya perusahaan yg di beli sahamnya,merupakan perusahaan yang sedang tumbuh,diperlukan suntikan dana mempercepat scaleup perusahaan.Biasanya yg mengakuisisi perusahaan hanya 1 atau 2 perusahaan,tidak banyak yg terlibat

*4.Equity Crowd Funding*

Pola yang mulai trend dilakukan saat ini,rame-rame menjadi investor di suatu bisnis model..
Adanya pengelola yg sukses mengembangkan bisnisnya terutama dibidang kuliner,krn kuliner akan ekspansi membuka cabang terus menerus,diperlukan Initial Crowd Funding dari para investor..

Fungsi Pengelola adalah menjalankan bisnis,resiko uang di investor,resiko waktu di Pengelola.
Adanya value yang kuat ditanamkan di awal..
Bisnis berjamaah mengangkat harkat para UMKM
Bisnis berjamaah membagi resiko kerugian

Bisnis berjamaah sama2 berkah,krn banyak orang yang terlibat,
Visi pengelola harus kuat,standby 24 jam,apabila cabang sdh ratusan..

Orang indonesia invest hanya 2 juta di satu keranjng ngga berat,tapi kalo harus puluhan juta ya berat,artinya menyebar investasi di 20 outlet kuliner sebesar 2 juta per outlet tdk lah berat,toh kalo satu outlet rugi masih ada outlet lain..

Initial Crowd Funding harus dikontrol sebaik mungkin,karena menyangkut uang investor yg ribuan orang,mekanisme yg ketat,manajemen resiko dalam pengelolaan kuliner sdh tdk bisa di tawar..
Semua ini bisa dijalankan apabila Pengelola punya Value yang kuat hingga valuasi perusahaan akan terbang tinggi.

Letak kolaborasi lebih terasa disini,beberapa anggota TDA sdh banyak terlibat dalam pola2 crowd funding ini.
Tersiar kabar ada anggota TDA yang sdh memiliki 20 brand dalam waktu 3 tahun mengusung bisnis model seperti ini..

Lalu untuk anggota TDA yang lain,yg sudah belasan tahun stay di TDA apakah bisnis model di atas pernah teman2 lakukan? Karena di TDA tagline belajar nya cukup..pastinya sudah banyak melakukan strategic financing dlm memutar usaha masing2.

Perlu keberanian dalam melakukan aksi2 kolaborasi seperti ini..
Atau menunggu momen,ketika TDA Pusat membuat event yg mempertemukan para :

Borrower vs Lender
Supplyer Vs Vendor
Investor Vs Pengelola?😊

*metliburan*

#TDAKenalKelik
#BusinessMatching
#KolaboraksiUntukNegeri
#Catatanrudi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini