A’udzubillahi minasysyaithanirrajim
Bismillahirrahmanirrahim

Ini yang jarang menjadi perhatian pengusaha: membangun kedalaman.

Emangnya kita perlu membangun kedalaman ya?

Ini pilihan.
Kita mau kelola bisnis dengan cara apa? Atau, bisnis kita ini mau kita bawa sampai mana?

Kesadaran membangun kedalaman ini tidak terkait dengan skala bisnis.
Ia nempel dengan “kesadaran” si Owner nya.
Artinya, semakin awal aspek ini dimiliki pebisnis, jauh lebih baik dibandingkan terlambat kesadaran.
Artinya, di level apapun saat ini, tetap kudu bangun kedalaman yang sesuai.
Jangan kurang, jangan pula lebay.

Mungkin saat berbisnis, kita akan melakukan kesalahan. Saya tidak menyalahkan sesiapa yang melakukan kesalahan dalam berbisnis, sebab sayapun pelaku kesalahan tersebut.
Berkali-kali, bahkan sampai saat ini pun masih 😅😁

Ingat contoh di status sebelumnya?
Ya, Ferrari.
Dia tahu betul, siapa marketnya?
Dia tahu betul, hadir untuk “melayani” siapa?
Dia malahan ngga mau, terlalu banyak orang memiliki Ferrari.

Maksudnya, kita boleh jadi harus memilih (minimal saat tertentu), mau hadir untuk siapa?
Kalau jasa, siapa yang akan kita layani?
Kalaupun produk, bikin produk untuk siapa?

__________________🎗

Lihat dan perhatikan gambar.

Dalam satu payung perusahaan, sebagian atau bahkan lumayan banyak pebisnis, yang pada keyataannya memiliki beberapa bisnis.
Alasannya sederhana, divisi A dibuat untuk menghasilkan, bikin divisi B, C dst juga masih merasa OK bisa mengurusinya dan yakin menghasilkan.
Apalagi pebisnis yang multi skill. Ini juga banyak (khususnya di Indonesia).
Saya ada banyak bertemu dengan pebisnis yang SEGALA BISA. Dan memang pas ngobrol mereka adalah orang-orang yang multi skill. Pebisnis yang memiliki multi skill, akan lebih mudah tergoda untuk membuka banyak bisnis. Sebab, dia merasa mau bisnis A dia bisa, B bisa, C bisa, dan seterusnya.

Memang, saat aktivitas masih sedikit di masing-masingnya, still ter-handle baik. Namun saat masing-masingnya mulai digarap lebih serius untuk makin besar, atau mulai menuntut perhatian si owner makin banyak, mulailah beberapa aspek manajemen bisnisnya ‘kewalahan’.
Pun di mengontrol aktivitasnya.

Jika si Owner nya ditanya,
“Apakah sudah tahu, divisi mana yang menghasilkan?
Datanya lengkap tersedia atau ‘keyakinan’ hati?
Datanya “bunyi” atau sekedar data mati?
Jika menghasilkan, menghasilkan berapa banyak?
Apakah ada divisi yang menjadi beban?
Divisi mana yang jadi beban?
Seberapa besar dia jadi beban?
Apakah aliran uang sudah disiplin untuk masing-masing divisinya?
Atau pokoknya ada uang dimanapun bisa dipakai untuk divisi manapun?

Atau dalam satu holding company, yang membawahi beberapa PT atau CV.
Apakah kita sudah ada data valid, perusahaan mana yang beneran sudah menghasilkan?
Seperti apa kinerja masing-masing perusahaan yang ada?
Dashboard keuangan dan dashboard bisnis masing-masingnya apakah sudah tersedia?
Apakah aliran uangnya sudah clear?
Sudah jelas kebijakan transaksi antar PT/CV nya?
Bagaimana jika salah satu perlu uang?
dsb

Atau dalam bentuk cabang/franchise.
Franchise/cabang mana saja yang sudah menghasilkan?
Apakah ketemu polanya?
Seperti apa polanya?
Apakah itu dampak dari template yang sudah terukur standarnya?
Atau masih “kebetulan” saja, rezeki ‘peruntungan’ mitra saja?
Apakah sudah bisa tersajikan by fakta dan data, jika syarat-syarat “X” terpenuhi, maka (misal) probabilitas sukses mitra saat ambil franchise secara statistik bisa di atas 60%?
Jangan-jangan masih serba “tawakal” (pake tanda kutip).
Jadi, saat orang mau ambil franchise, yang ditunjukkan adalah mitra franchise/cabang yang (kebetulan) bagus/moncer.
Sementara yang “mayoritas” terseok-seok tidak disampaikan ke calon mitra.

Atau bagi yang baru memulai bisnis, yang masih palugada, apakah sudah mulai memikirkan dan mendefinisikan bisnis yang mana yang paling pas dengan dirinya? Yang paling efektif? Yang jelas profit dan potensi dikembangkannya? Dll

__________________🎗

Ada minimal 4 resiko yang “mengancam” jika pengusaha tidak mengurus bisnis dengan proper:

1. Resiko Agama (Moral)

Buat yang mau pakai agama (dan standar moral agama) sebagai tolok ukurnya dalam beraktivitas, maka kaidah ini menjadi nomer satu. Agama Islam (untuk pengusaha muslim) misalnya, Quran sudah memberi “kode” sederhana: halal dan thoyib. Tidak cukup hanya halal, dia juga harus baik.
Itukan bab makanan?
Ya. Dan berlaku dalam semua hal lainnya.
Jadi, saat mau berbisnis, bertransaksi, berjual-beli dll, jika sudah tidak memenuhi dua hal mendasar ini saja, langsung coret. Tidak perlu ditelaah lagi aspek lainnya. Misal: bisnisnya prospek dan untungnya guedee atau tidak, nggak perlu lagi di cek. Nggak perlu capek-capek due dilligent.
Nggak halal? Atau halal tapi nggak baik? Coret.
Riba? Pakai dana riba? Coret!

Itu sebabnya, kaidah dalam menuntut ilmu itu bukan keren-kerenan. Bukan banyak-banyakan. Tapi, tepat-tepatan:

“Ilmu yang paling utama adalah ilmu yang dibutuhkan saat itu, dan sebaik-baik ‘amal adalah menjaga ( ‘amal ) yang dituntut saat itu.”

Muslim, yang mau terjun bisnis, dia wajib belajar fikih muamalah. Agar tidak celaka dunia akhirat, dan tidak mencelakakan.
Agar mudah baginya memutuskan sesuatu hal nantinya.
Agar beroleh keridhaan Allah ta’ala.
Jika tidak memiliki kapasitas untuk belajar sendiri fikih muamalah?
Ikut pada ulama yang lurus dalam taat pada kaidah fikih muamalahnya.

2. Resiko Finansial

Pebisnis kebanyakan, baru menyadari bahwa berbisnis itu wajib dilakukan dengan proper, jika sudah bagian ini yang “kena”.
Emang kang Riza sekarang dah bebas nggak “kena” bab ini?
Hihihi… masih suka kena. Bahkan sampai sekarang.
Buat saya, itu pertanda bahwa kami masih sangat banyak kekurangan yang harus diperbaiki.
Continuous Improvement harus terus, taubat harus terus, belajar harus terus.
Memang sih, saat pengusaha masih berlimpah uang cash, jarang banget nyadar akan resiko ini. Sebab, uangnya ada.
Namun saat sales turun, trus bingung sebab kewajiban mulai “menuntut”, sementara di rekening ternyata cash mulai menipis bahkan nggak cukup, barulah kepanikan itu dimulai. Padahal boleh jadi, sales nya ngga buruk-buruk amat. Hanya turun dikit doang. Tapi dampaknya ternyata fatal.
Jadi, meski mungkin tidak suka, pengusaha WAJIB MELEK FINANSIAL.
Belajarlah.
Agar tidak salah mengarahkan kebijakan, agar tidak salah ambil keputusan dan tetapkan strategi.
……………….
Contoh resiko finansial yang menimpa UMKM:
Saya pernah menyampaikan “saran” ke beberapa komunitas bisnis yang anggotanya UMKM.
“Jangan bikin proyek bisnis bersama (dahulu).
Bahkan, jangan dibuat even dengan sengaja, ada business matching dkk.
Nanti, ada waktunya, jangan saat ini.
High risk!
Eeee…rata-rata tetep melakukan.
Apa dampaknya?
Yang punya uang selalu menjadi pihak yang jadi korban. Uang hilang.
Sebab semangat bekerjasama, namun kurang tepat atau belum saatnya, berdampak pada hilangnya uang banyak sekali orang.

3. Resiko Sosial

Nah, contoh di atas berlanjut.
Sebab bukan hanya hilang uang, dampak ikutannya adalah, banyak member (yang jadi korban uangnya ilang), akhirnya kehilangan kepercayaan kepada komunitas tersebut.
Pun kepada pengurusnya (yang juga akhirnya bingung kudu bagaimana).
Padahal pengurusnya punya niat baik, agar anggotanya bertumbuh pesat.
Sekali lagi, bukan “salah program”nya, tapi boleh jadi belum saatnya, belum terpenuhi syarat-syarat ikhtiarnya untuk “ready” lakukan itu.
Intinya, semua bentuk “terburu-buru”, entah itu terburu-buru besarkan bisnis dengan cepat, terburu-buru franchisekan bisnis, terburu-buru buka cabang ini itu sampai ngebelain ngutang, sangat tidak baik.
Sebab, ujungnya si pengusaha malah bisa kehilangan TRUST, dan REPUTASI-nya malah ter-stempel: BURUK.

4. Resiko Legal

Ini yang biasanya paling diabaikan mayoritas pebisnis UMKM.
Seringnya tidak sengaja mengabaikan. Seringnya tidak mengerti.
Hanya banyaknya, tidak mau mengerti.
Memang tidak mesti si pengusahanya mengerti detilnya. Cukuplah saat dia menjadi pengusaha, dia cari tahu apa-apa saja yang menjadi resiko legal.
Dari sejak hal yang “sepele”: kepemilikan.

UMKM banyak yang masih tidak memahami esensi dari kepemilikan.
Betapa banyak bisnis yang bubar, sebab akhirnya tidak beres dan jelas urusan ini.
Banyak bisnis yang berurusan dengan hukum, sebab ‘abai’ aspek ini.
Banyak terjadi pertikaian antar pemilik, sebab aspek ini.
Banyak perusahaan stuck tidak bergerak, sebab urusan ini.
Banyak bisnis bangkrut, sebab tak paham urusan pajak, sampai berurusan dengan pengadilan.
Dan bukan hanya yang skala kecil, bahkan pengusaha skala besar saja masih sering kena urusan beginian.

__________________🎗

Sudah kepanjangan statusnya. 🙂

Intinya,
Bisnis itu tidak hitam putih.
Bukan berarti pemilik yang masih jadi CEO (Chief Everything Officer 😊😁) itu salah.
Nggak ada masalah pemilik menjadi CEO.
Masalah itu jika dia menjadi CEO yang TIDAK PROPER.
Jadilah CEO yang proper, yang ngerti, paham, meski belum berbasis sistem.
Saya ada kumpulan pebisnis yang masih muda-muda usia.
Salah sekiannya, masih berkutat dengan semua urusan di bisnisnya. Tapi mereka bebas finansial.
Beli mobil 1/2 M, cash!
Beli rumah, kantor cash!
Beli kebun, sawah cash!
Sangat proper.
Prinsip mereka, selain kudu shalih, dalam bab bisnis sederhana; yang penting pas-pasan saja.
Pas mau beli mobil 1/2M, uang cash-nya ada.
Pas mau beli kantor 1,4M, uang cash-nya ada.
Dll selalu…pas-pasan 🙂😁

__________________🎗

Balik lagi, silakan perhatikan gambar.

Jadi, di gambar 2 itu menjelaskan, betapa ikhtiar pebisnis meningkatkan kapasitasnya mesti dilakukan dengan PROPER, dengan KEDALAMAN. Mengapa perlu punya uang banyak?

Contoh,
Kisah nyata, ada beberapa pebisnis yang bagus banget jalankan bisnisnya. Masih muda-muda, awal 30 tahunan.
Mereka punya produk sangat keren dan proper dalam ngurusin bisnisnya.
Hingga bisnisnya tumbuh sangat besar.
Uang cash mereka banyak.
Nah, saat dituntut pengelolaan yang makin kuat, makin sistemik, Mereka PUNYA UANG untuk mencari talent hebat, menjadi CEO dan board of director-nya.
Mereka lantas menjadi OWNER saja.
Saya ngga bisa sebut nama-nama mereka satu-persatu.

Kesamaannya:
mereka mengurusi bisnisnya dengan proper, khusyuk, fokus.
Saya nggak melihat mereka jalan-jalan kesana kemari atau sibuk beli bisnis ini dan itu. Mereka putarkan kekayaan mereka untuk “membangun kedalaman” di bisnis mereka sendiri.

__________________🎗

Mudah-mudahan gambar terlampir lebih mempermudah teman-teman dalam proses berbisnisnya.
………………..

Penutup,

Temans, saat kita sudah paham dan ikhtiar terbaik untuk proper mengelola bisnis, pastikan kita terhindar dari PENGHANCUR BISNIS.
Sebab, sehebat apapun kita menghasilkan uang dari bisnis kita, ada jenis kesalahan fatal yang sangat mudah menghancurkan bisnis kita, dengan cepat.

InSyaAllah next dilain kesempatan bahas tentang ini.

Namun, ada jenis ancaman yang selalu menganga lebar, siap menghabisi bisnis dengan sekejap meski tidak lakukan kesalahan.
Ancaman yang tidak bisa kita kendalikan, yang datangnya dari luar.
Seperti contoh virus corona misalnya.
Betapa banyak jenis aktivitas saudara-saudara kita yang tidak hanya decline penghasilannya, namun tiba-tiba HILANG.
LENYAP begitu saja.
Ini mungkin saja terjadi pada diri kita.
Na’udzubillahi min dzalik.

Kita doakan semua saudara kita membaik kembali, dan kita minta perlindungan Allah ta’ala untuk semua.

Wal afwu,

Riza Zacharias

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini